selamat datang di blog Badan eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman. blog ini merupakan program kerja departemen jaringan dan hubungan masyarakat bem fkip. terima kasih atas kunjungannya. semiga bermanfaat. teruslah berkarya untuk agama dan bangsa.

Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Desember 2008

Selamat Hari Ibu...


Ibu Lebih Mulia dari Matahari Karena Matahari hanya menerangi dunia ini pada siang saja. Tapi ibu menerangi anak-anaknya sepanjang masa, menembus ruang kehidupan sepanjang jaman

Ibu Lebih Mulia dari Pohon Rindang Karana Pohon hanya meredakan panas bagi insan yang berteduh di bawahnya. Tapi Ibu meredakan panas kehidupan yang penuh pancaroba, meredakan kekusutan hati anak-anaknya.

Ibu Lebih mulia dari Emas dan Baru Permata. Karena ia hanya lambang kekayaan, lambang kemewahan. Tapi Ibu adalah lambang kasih sayang
, lambang cinta, lambang kemuliaan, lambang pengorbanan sejati untuk anak-anaknya.

Ibu lebih mulia dari manis gula dan asinnya garam. Karena mereka hanya membuat lezat sesuap makanan dan nikmat secangkir teh. Tapi Ibu mampu melezatkan keriangan dan menambah kecintaan kepada kehidupan anak-anaknya setiap masa... sampai kapanpun jua.

Ibu Lebih Mulia dari Angin. Karena Angin tidak mampu sepanjang masa bertiup perlahan lagi menenangkan keadaan. Ada waktunya ia menjadi badai dan taufan merobek kedamaian dan kebahagiaan insan. Tapi ibu, sepanjang masa menenangkan jiwa anak-anaknya sesepoi bahasa bayu, menyemai rasa cinta dan kasih sejati anak-anaknya

Ibu... Mulianya dirimu... Membenarkan bahwa “Syurga itu di telapak kaki ibu”

(Di adaptasi dari Majalah Mutiara Amaly)

Terkhusus untuk Seluruh Ibu, Terimakasih untuk setiap tetes cinta, kasih, sayang dan segala pengorbanan untuk kami. Mohon maaf jika kami belum melakukan apa-apa untuk membahagiakan mu. (Selamat Hari Ibu_ I Love You Mom)
(MsU)


selengkapnya......

Rabu, 17 Desember 2008

Resensi Film: I Not Stupid



Untuk mahasiswa dari Prodi Bahasa Inggris jangan keburu Protes dulu dengan judul yang saya tulis, meskipun saya bukan dari Prodi B.Inggris, percaya deh saya gak salah ketik . Judul filmnya memang seperti itu tidak ada satu huruf pun yang saya lewatkan. Film dari negeri Singapura ini memang punya judul yang agak aneh dari sisi tata bahasa. Tapi itulah yang jadi salah satu khas dari negara tetangga kita itu,mereka punya gaya bahasa inggris yang rada unik.
Sebenarnya film ini udah lama banget rilisnya, sekitar tahun 2002. Tapi sepertinya memang tidak terlalu populer di Indonesia. Saya pernah ngobrol dengan mahasiswa dari Pendidikan Kimia, katanya film ini pernah di tonton bareng sama temen-temen HMPK.
Memang film ini cocok banget buat mahasiswa yang kuliah di fakultas keguruan karena tema yang diangkat adalah tentang pendidikan, meskipun settingnya diambil di Singapura saya rasa gak ada salahnya di tonton. Karena banyak hal yang bisa diambil untuk jadi bahan refleksi untuk pendidikan Indonesia.
Untuk yang belum nonton semoga resensi ini bikin kalian penasaran dan buruan cari kesetnya untuk di tonton rame-rame terus di diskusikan apa aja yang bisa dipelajari dari film ini. Untuk yang sudah nonton, kita nostalgia aja sambil ingat-ingat gimana jalan ceritanya. Ok, dah kepanjangan “intro” nya langsung aja kita cari tahu seperti apa film I Not Stupid sebenarnya.
Film dibuka dengan adegan tiga sekawan Liu Kok Pin, Ang Boon Hock dan Teryy Kho yang di jemput orang tua masing-masing. Mereka memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Ayah Kok Pin bekerja di sebuah Biro Iklan, selalu pulang larut malam dan memasrahkan pendidikan anaknya kepada sang Istri. Terry anak pengusaha sukses yang suka main perintah, dengan ibu yang suka mengatur. Sedangkan Boon Hock murid yang pintar dan suka membantu ibunya berjualan di warung mi milik keluarga.
Ada satu hal yang menyatukan mereka yaitu ketiganya berada dalam satu kelas yang sama yaitu EM3 sekolah dasar. Di singapura, pada saat anak-anak usia 12 tahun, anak dikelompokkan dalam 3 kategori yakni anak-anak yang memiliki kecerdasan tinggi (EM1), rata-rata (EM2) dan anak-anak yang kecerdasannya di bawah rata-rata (EM3).
Sesungguhnya, bila mereka dianggap kurang berprestasi tidak sepenuhnya tepat. Kok Pin adalah anak yang memiliki bakat melukis. Tapi sayangnya bakat itu tidak berarti bagi sistem pendidikan disana. Anak yang pintar adalah yang menguasai matematika dan ilmu pengetahuan. Dan itu yang sangat diinginkan oleh orang tua mereka bertiga.
Alhasil, banyak tuntutan yang harus mereka penuhi, sekolah yang semestinya menjadi tempat menyenangkan untuk menggali ilmu berubah seperti sebuah penjara bagi trio bocah ini. “Disinilah penjara yang pernah kita jalani”, kalimat itu yang menjadi narasi pembuka film ini.
Film ini menggambarkan bagaimana tekanan yang harus diterima oleh anak-anak di negeri Singa datang dari berbagai penjuru. Sistem pendidikan yang membuat mereka jengkel (dengan klasifikasi berdasarkan kecerdasan kognitif) di tambah lagi dengan orang tua yang memaksakan kehendak pada mereka. Hal itu di alami oleh Terry, anak orang kaya tapi teramat penurut pada ibunya, atau Kok Pin yang harus menerima sabetan rotan saat nilai ulangannya jeblok. Hasilnya Justru membuat Kok Pin semakin putus asa, sampai-sampai mencoba bunuh diri.
Semangat Kok Pin tumbuh kembali ketika kawan-kawannya yang di culik ditemukan akibat gambar sketsa wajah penjahat yang dibuatnya. Film ini berakhir dengan bahagia Ketika Ibu Kok Pin selamat dari maut karena donor sumsum dari sahabat Kok Pin ,Terry. Peristiwa itu sekaligus membuat ayah mereka yang bermusuhan berdamai. Di tengah kegembiraannya itu, gurunya memberi kabar Kok Pin mandaptakan beasiswa ke Amerika Serikat karena bakat menggambarnya.
I Not Stupid adalah Film yang bisa buat kita tertawa dan menangis pada saat bersamaan. Karena kepiawaian sutradara untuk mengemas cerita menjadi menarik, mengiris tetapi tetap renyah karena disisipi dengan komedi yang ringan. Drama keluarga yang menggambarkan kehidupan 3 anak sekolah dasar yang harus berjuang untuk mencapai prestasi yang bagus. Yang tidak biasa dari film ini adalah kemampuan sutradara bertutur dari sudut pandang si anak. Sutradara meneguhkan bahwa ada hubungan sebab akibat yang sangat erat antara pendidikan oleh orang tua di rumah dan performa anak-anak.
Film ini mengingatkan kita semua baik itu pihak sekolah, orang tua murid, birokrat pendidikan atau siapapun yang perduli akan pendidikan bahwa setiap anak memilki kecerdasanya sendiri. Mereka tidak boleh dipinggirkan, apalagi dirampas hak pendidikannya, hanya karena gagal dalam ujian matematika atau salah satu mata pelajaran lainnya. Tidak ada anak yang bodoh!!!(MsU)

selengkapnya......

Minggu, 30 November 2008

Merenung Sejenak Untuk Para Guru Indonesia

Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sbagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa

Bait yang indah dan selalu dikenang, terlebih setiap 25 November dalam rangkaian peringatan Hari Guru Nasional. Tak ada yang menampik bahwa lagu ini memang indah. Sayang, keindahannya tidak berjalan linier dengan nasib penciptanya, Sartono, guru kesenian di SLTP Kristen Santo Bernandus Madiun, Jawa Timur. Juga nasib mayoritas guru di Indonesia.

27 tahun sudah usia hymne ini. Selama itu pula gelar 'pahlawan tanpa tanda jasa' selalu disandangkan kepada guru. Di satu sisi gelar ini amat menyanjung, namun di sisi yang lain justru kurang menguntungkan bagi profesi guru. Pasalnya, seringkali penghargaan yang diterima tak lebih dari sekadar pemanis bibir dan hanya bersifat slogan.


Dengan alunan lagu hymne guru marilah kita renungkan sejenak dunia pendidikan kita. Akhir-akhir ini dunia pendidikan kita sangat membutuhkan perhatian dan penanganan serius karena terjadi kesemrawutan dalam pengelolaan pendidikan nasional.
Desentralisasi pendidikan belum menunjukkan hasil signifikan. Pergantian kurikulum belum menampakkan hasil nyata. Semula kita amat berharap kepada kurikulum muda yang bernama KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), yang kemudian berganti baju menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Pada dasarnya kurikulum ini menuntut guru bertindak aktif-kreatif, bukan sekadar menjadi robot-robot birokrasi.

Guru dituntut bisa mendorong peserta didik untuk sadar akan potensi yang dibawanya, kemudian menemukan pengetahuan dan menguasai kompetensi-kompetensi tertentu sesuai potensi-potensi tersebut baik di ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Yang juga belum beres adalah standar pelayanan minimal pada satuan pendidikan, standar minimal nilai kelulusan siswa sekolah, serta ujian nasional. Belum juga ada pertanda penetapan APBN dan APBD pendidikan sudah sesuai UUD 1945 dan UU No 20/2003.

Guru memang bukan satu-satunya elemen penentu keberhasilan pendidikan, namun tidak berlebihan apabila dikatakan guru adalah kunci utama pendidikan. Perubahan kurikulum dengan beragam julukannya --CBSA, KBK, KTSP, atau apa pun sebutannya-- tidak akan membawa perbaikan yang signifikan manakala manusia dewasa yang bernama guru itu tidak memahami dan menjalankan profesinya secara kreatif dan bertanggung jawab.

Guru adalah ujung tombak pendidikan, sementara birokrasi pendidikan hanyalah motivator untuk melejitkan kecerdasan dan kreatifitas mereka. Guru yang cerdas dan kreatif tentu paham tentang hak kebebasannya berekpresi, sehingga ia tidak selalu dalam bayang-bayang kekhawatiran salah prosedu atau menyalahi standar birokrasi.

Dalam meneropong persoalan ini, Ketua Program Magister Manajemen Uinversitas Indonesia Rhenald Kasali mengklasifikasi guru dalam dua tipe: guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Yang ia ajarkan hanyalah sesuatu yang standar (habitual thinking).

Sementara tipe kedua bukanlah guru yang mengejar kurikulum, tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengelola dan meramunya di dalam, lalu membawa kembali keluar untuk masyarakat luas.

Jika tipe pertama menghasilkan manajer-manajer yang andal, maka tipe kedua melahirkan pemimpin-pemimpin yang berani merobohkan kebiasaan lama yang kontraproduktif. Kedua tipe ini sama-sama dibutuhkan, karena salig melengkapi. Tetapi ironisnya, sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Padahal guru inspiratif amat menentukan masa depan bangsa agar keluar dari krisis. Ketika guru inspiratif kian dibelenggu dan dikerangkeng, maka semakin sulit bangsa ini keluar dari krisisnya.

Guru dituntut bisa mendorong peserta didik untuk sadar akan potensi yang dibawanya, kemudian menemukan pengetahuan dan menguasai kompetensi-kompetensi tertentu sesuai potensi-potensi tersebut baik di ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.

Idealisme ini tentunya tidak kita inginkan hanya ada di angan. Guru tidak hanya pasif dan cenderung taken for granted terhadap pernak-pernik kurikulum yang dititahkan oleh birokrasi pendidikan. Entah guru yang salah ataukah memang demikian skenario buruk yang dirancang birokrat untuk meng-golkan proyek-proyeknya. Wallahu a'lam

Sebagai pendidik Jangan sampai hanya sekadar melakukan transfer pengetahuan dari dalam buku pelajaran, kemudian menyimpannya di dalam otak peserta didik, lalu mengeluarkannya manakala ujian digelar. Hasil pungkasannya adalah angka-angka fantastis di atas selembar ijazah.

Sangat tepat dengan Peringatan Hari Guru Nasional 2008 ini para guru melakukan refleksi dan otokritik. Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan, para guru juga harus berusaha meningkatkan kompetensi diri. Empat kompetensi guru, yakni kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial, sudah seharusnya tak hanya sekadar hafalan dan retorika belaka, tetapi benar-benar menyatu secara afektif dan mewujud dalam aksi nyata.

SELAMAT HARI GURU NASIONAL, BRAVO PENDIDIKAN INDONESIA!!!!


selengkapnya......